Total Tayangan Halaman

Selasa, 09 Februari 2010

MaHo ....... Manusia homo.........

Malam itu kita tidur rame-rame di kamar bawah. Karena sedang ditinggal abi , ada acara menginap bersama teman beliau. Menjelang tidur, aku sudah capek banget sehingga nggak bisa menggali cerita dari my children.


Dari sore, Zaky sudah buat acara sendiri yang membuatku lelah untuk terus mengingatkan. Biarlah aku tinggal tidur saja, pasti mereka akan mengikutiku tidur juga.
Dan memang benar 5 menit kemudian mereka sudah ambil posisi tidur di sekelilingku. Tsuraya tetap yang menguasaiku, tidak ada yang boleh dekat umi. Sehingga dua kakaknya siap di kasur bawah, berpelukan.

Lucu juga sebetulnya melihat dua anak itu berpelukan,n padahal mereka baru saja bertengkar. Posisinya Zaky ada di belakang/ dipunggunggi Azhari memeluk kakaknya. Karena kegelian maka kakaknya berkata :
“Eh …. Aku geli ahhh. ……… nggak mau kalau dipeluk zaky.”
“Hehehehehe ……… enak kan kalau aku peluk!”
“IIIIIIH …….. enak gimana ….. risih tahu !”
“ Sini aku peluk lagi. Hahahahha…….. “
“Emangnya aku MAHO “
“ Apa kak ? kakak mau kan aku peluk.”
“ Bukan mau …….!!!! Tapi MAHO!!!”
“MAHO ………..??? APA ITU MAHO ?”
“MaHo itu manusia homo. …………. Ngerti nggak ?”
“Hooomooo ……. ? apa itu homo ? aku nggak ngerti ?”
“Laki-laki suka sama Laki-laki……… sana jangan dekat-dekat.”
“AKU BUKAN MAHOOOO KAKAK! POKOKNYA AKU MAU TIDUR SAMA KAKAK !!!”
Akhirnya aku angkat bicara juga karena mereka semakin berisik.
“Shheeeeeeeeet …… udah malam ! ……..ayo tidur semua !”

Tai Kambing.

Berbicara santun memang harus selalu kita lakukan, baik kepada siapa saja. Apalagi kepada anak kita. Setiap perkataan kita akan selalu diingat/ direkam oleh anak kita. Maka kita harus berhati-hati menjaga lisan kita didepan mereka, walaupun niatnya hanya bergurau.
Usia 2 – 5 tahun merupakan saaat-saat yang sangat sensitive bagi anak-anak. Diusia ini mereka seperti kaset kosong yang siap untuk merekam setiap peristiwa yang mereka alami. Berkaitan dengan hal tersebut ada sebuah cerita dari anakku Tsurayya. Ia kalau sudah bertanya, banyak sekali hal yang diomongkan. Apasaja diomongkan termasuk hal-hal yang sudah pernah dibicarakan, hal yang sudah lampau. Yang bagi kita orang dewasa merasa, ngapain sih diomongin lagi …. ? emang nggak ada topic lain ….?
Sudah gitu kalau kita tidak menanggapi omongannya, dia tidak puas. Pasti akanmencari kepastian akan pendapat kita. Apalagi kalau pulang kerja. Capek dan kadang badan pengen cepet-cepet istirahat tapi masih harus berhadapan dengan si kecil yang lagi cerewet-cerewetnya.
Saat ini aku memang lagi punya jadwal minum obat secara rutin, untuk mengobati benjolan di kelenjar getah beningku. Obat itu semua harus dihabiskan sesuai jadwal. Ada 4 kali dalam sehari aku harus meminum obat tersebut.
Dan jadwal sore hari adalah saat aku bertemu dengan dia dari semua kegiatan dia dan aku. Kebetulan obat itu berbentuk bulat hitam dan jumlahnya ada 15. jadi untuk 15 hari.
Setiap hari dia bertanya saat aku minum obat tersebut.
“Obat apa icu mi ? …………. obat umi ya ? ……. Umi lagi catit ya ? …….. catit apa mi ? “
Pertanyaannya bagaikan mitraliur, diberondongkan kearahku setiap hari. Padahal untuk minum 1 obat tersebut aku membutuhkan 1 gelas air putih penuh, bahkan kadang suka lebih, karena memang sulit ditelan walau kecil tapi keras.
“Ya mi ..! ……. Ini obat umi kan mi ! ….. biar apa mi, kok umi minum obat ini lagi ?”
“Biar sembuh adik !”
“Biar cembuh ya mi, ya ! …… kok bentuknya tayak gitu mi !”
“Iya biar gampang diminumnya ! ……… !!!!!!!!!!!!!!!! … (padahal setengah mati minumnya.]
“ Bentuknya kayak apa sih dik ?”
“Nak tahu aya………. tayak apa cih mi ?” ……….[aku diam saja] …….. mi tayak apa mi ?”
“Menurut adik bentuknya seeprti apa….. hayo “
“Aya nak tahu …… tayak …..tayak apa cih mi ?”
“Kalau nggak tahu ya sudah ngaak papa …..!”
“Aaah umi …. Tacih tauin aya dong mi!!”
“Eeeeeeehmm apa ya ? …. Itu lo dik , kayak yang ditempat uwak. Suka ada kotoran hitam-hitam kayak gini .”
“Totolan tambin …. !!!!”
“Hehehehe ………!”

Dan hal ini akan berulang terus untuk keesokan harinya. Sesuai jadwal minum obat. Hingga suatu saat aku bosan menjawabnya.
“Mi …. Itu apa ? yang umi minum ? …….. obat ya ?........ obat ya mi !”
Namun aku diam saja tidak menjawab pertanyaannya seperti biasa. Hingga ia memastikan lagi seperti biasa.
“Itu obat ya mi. obat umi ya mi ……. Mi !!!!”
“Bukan adik !””
“Butan obat ya mi. itu butan obaat ………..?”
“Bukan ….!!!”
“Butan ya ?? ………Talau butan apa mi ?? ………..tai tambin ………! Ya mi……. tai tambin……….. !!!”
“ Tooooooooooeeengg ……………………////////////???????????????” SENJATA MAKAN TUAN !!!!!!!!!!!!
“Iya umi makan tai kambing !” Hiiiiiiiii …….”
Anakku bengong sesaat.
“Aaaaaaaa butaaaaaaaan ……… umi matan obat ……. Butan tai tambin.”

Alhamdulillah , tenyata anakku bisa membedakan tai kambing dengan obat.