Total Tayangan Halaman

Minggu, 22 November 2009

PETIR

Petir adalah gejala alam yang muncul ketika cuaca mendung. Sore itu cuaca memang mendung. Pikiranku menerawang memikirkan kondisi suamiku dan anakku Tsuraya, sedang apakah mereka dalam kondisi cuaca yang demikian. Petir menggelegar memekakkan gendang telinga, membuat ciut nyali ini. Sedangkan hujan gerimis disertai angin yang menyertai menambah kerisauan hatiku.
Tiga anakku, baru dua yang ada disampingku. Mereka sudah semakin meringkuk dan menempel ke tubuhku tiap kali mendengar petir. Padahal sebelumnya mereka asyik dengan kegiatannya masing-masing. Zaky asyik mencari tempat dingin dalam tidurnya. Beberapa kali kugendong ke tempat tidurnya, tapi tak berapa lama kembali ke lantai yang dingin. Sedangkan kakaknya Azhari asyik dengan komputer.
Tapi tiba-tiba petir yang begitu keras mengagetkan kami semua. Semua berlari menuju ke tempatku sambil berteriak histeris. Teriakan Azhari terdengar paling keras. Mereka memelukku, apalagi suara petir tersebut tidak hanya sekali, tapi bersahut-sahutan.
Setelah beberapa menit nafasku mulai sesak, hingga kulonggarkan badanku beringsut sedikit dari mereka. Perlahan Zaky mulai bisa menguasai keadaan. Dan tak berapa lama ia pun mulai tersenyum dan tertawa melihat tingkah kakaknya yang masih telungkup menutup muka ketakutan sambil bersuara heeeeeehhhhhhhhhhhhhh.... hhhhheeeeeeeehhhhhh .....tak putus-putus.
"Kak, .........petirnya udah jauh kak. Jangan nangis terus.......!"
"Kakak masih takut !..huhuhuhuhuhhhuuuuu ......... kakak masih trauma sama petir !"
"Hahahahhaha......... trauma ?"
Tiba-tiba DUAAAAAARRRRRR .......PETIR mengelegar lagi mengagetkan kami semua.
"Huuuaaaaaaaaaaa ..........takuuuuuuuuuuut."
Ternyata petir masih belum mau meninggalkan kami sore itu. Geli juga mendengar kalimat yang diucapkan Zaky sebelumnya. Hingga dalam ketegangan saat itu, muncul kalimat pertanyaan darinya yang terdengar lucu pada situasi saat itu.
"Umi ..... trauma itu apa sih ? Kok kakak takut."
"Trauma ? ..........apa ya ......... tanya kakak deh. Kan kakak yang bilang tadi. "
"Kak ....trauma itu apa kak ?"
Geli aku mendengar ucapan Zaky tadi. Tapi lumayan lah situasinya jadi tidak setegang tadi. Alhamdulillah hujan mulai reda dan petir itu juga sudah tidak terdengar lagi.
"Tok-tok-tok, Assalamu'alikum ..........."
"EEH neng Tsuraya pulang. .........diantar siapa dik ? Uwak ?"
Tsuraya menjawab sambil menganggukan kepala. Syukurlah anak-anakku sudah berkumpul semua. Tinggal tunggu kabar dari suamiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar